Rabu, 05 Juli 2017

Komunitas Kupretist dari Masa ke Masa


Awalnya, Mas Ginanjar "Acheng" Syaban (Co-Founder) melewati sebuah daerah di Al-Gamaliya, area dekat masjid Al-Azhar & Sidna Hussein. Ia bertanya-tanya kenapa nama-nama di daerah itu disebut pula oleh Naguib Mahfouz di novel-novelnya. Lalu, penasaran pun semakin menjadi.
Sementara itu, Gus Muhyidin "Mumu" Basroni (Founder), Mas Nanang "Jon" Musha, dan sejumlah kawan tergerak untuk memulai sebuah gerakan berbentuk "walking tours" sekitar Kairo. Hal ini dilatar-belakangi masifnya pelajar yang berwisata ke luar kota. Sedangkan tidak semua kawan berkesempatan untuk rihlah yang menguras isi kantong itu.

Dimulailah perjalanan dan tercetuslah nama. Dua kali mengalami perubahan lalu dipakailah nama "Kupretist du Caire". Kupretist dari Kutu Kupret sebagai simbol pelajar yang "terpinggirkan" terutama karena masalah finansial.

Nama ini dicetuskan oleh Mas Nanang "Jon" Musha yang menyebut kegiatan menjelajah lorong-lorong ini adalah kegiatan para 'kutu kupret'. Para mahasiswa asal Indonesia di Kairo yang tak mampu berwisata ke luar kota dan hanya mampu menyusuri lorong-lorong Kairo itulah sampel para kutu kupret bagi Jon. Dalam catatannya, Gus Mumu mengungkapkan bahwa terlepas dari sepakat dengan argumentasi Jon atau tidak, istilah 'kutu kupret' dirasa pantas untuk melambangkan seseorang yang sebagaimana seekor kutu, berjalan menyusuri lorong dan jalanan, yang dalam hal ini adalah lorong Islamic Cairo.

Dalam wawancara (ada di channel YouTube), Mang Aceng bercerita bahwa Juni 2007 menjadi awal "ngupret" di Islamic Cairo, area Tembok Kota menuju Bab Al Fotouh dan sekitar. Sekali dua-kali, event ini mendapat sambutan yang baik dari kawan-kawan.

Sepakat memakai baju hitam-hitam, dulu para "Kupretist" menjelajahi berbagai situs sejarah di Kairo. Komunitas yang berbasis gerakan ini terbuka untuk siapa saja yang hendak ikut. Seperti terdapat sebuah kaidah bahwa "Tidak ada istilah anggota dalam komunitas ini. Kalaupun dipaksa ada, maka semuanya adalah anggota/member kecuali ia yang tidak mau." hehehe

Namun, dalam berjalannya event-event pastilah ada kawan-kawan yang aktif menyumbangkan ide perjalanan atau menyuarakan ajakan. Estafet komunitas yang sempat berganti nama dua kali ini berlanjut di tangan Mbah Imam Suhrowardi, Mas Rochim "Cempoes", Mas Faizin "Walang" Zuhri, Mas Fauzan dan beberapa kawan.

Rancangan logo diusulkan oleh Mas Mas'ud "Akunamasao" beberapa kali, hingga dipakailah hasil akhir dari logo itu hingga sekarang.

Pasca revolusi 2011, suasana Kairo yang masih carut marut bisa dibilang menjadikan event "ngupret" terhambat. Apalagi aparat keamanan yang sensitif melihat kamera. Mas Ulul "Uyung" adalah salah satu kawan Kupretist yang sempat berurusan dengan hukum Mesir. Ia menginap di penjara Polsek Al Gamaleya selama 3 hari sebab salah paham dengan aparat kepolisian soal potret-memotret.

Estafet berlanjut. Event-event Kupretist lalu dimotori oleh Mang Ade Gumilar, Mas Zulfahani Hasyim, dan sejumlah kawan.

Sempat vakum beberapa waktu, Kupretist du Caire bangkit lagi dengan wajah-wajah baru angkatan 2012. Mu'hid Rahman, Miftah Wibowo, Khalil Maksum, Arsyad Fuadi, Dede Suandi, Helma Hassan (Malaysia) dan sejumlah kawan kembali melanjutkan penjelajahan.

Dua tahun belakangan, wajah-wajah baru kembali muncul mengisi kegiatan komunitas ini. Adam Baskoro, Alqi Faricha, Aini Akbar, Alvi Qadri, Abduh Ms., Amna Mushaffa, Dimas Akmal, Inayati Syaflinda, Falih Ahsan. Dari Malaysia ada Amira Majdi, Muaz Halim, Muslim Ngabadi, Alia Fudla, dkk. Ada banyak kawan baik Indonesia maupun Malaysia yang tidak disebutkan di sini.

Ada beberapa perubahan di dalam Kupretist. Dulu kawan-kawan Kupretist sepakat mengenakan baju hitam-hitam, berkumpul dan memulai perjalanan dari Rumah Budaya Akar, atau diisi hanya oleh kawan-kawan Indonesia.

Kini, nampaknya wajah-wajah baru memilih kaos putih berlogo hitam untuk dipakai. Tempat tujuan atau landmarks tertentu biasanya menjadi titik-pertemuan. Serta merangkul kawan-kawan Malaysia untuk berjalan bersama.

Meskipun demikian, perubahan seperti ini tak menjadikan kami sekarang ini mengubah pola kegiatan Kupretist yang mendasar. Kami akan berusaha terus mengampanyekan "student walking tours" sehingga Kairo, Mesir sebagai tempat singgah ini tidak lagi dipandang sebelah mata. Mesir memang ada indah dan tidaknya seperti lazimnya tempat di manapun di dunia ini. Namun, menikmati proses petualangan inilah yang kami yakin akan membuat kami juga menikmati "indah & tidaknya Kairo", bersyukur akan hasilnya apapun itu.

Khazanah wawasan sejarah, seni-budaya, dan kehidupan sosial di Kairo ini semoga dapat menjadi bagian dari bekal kami sebagai pelajar Al-Azhar yang diharapkan agama, nusa, dan bangsa. Amin.

5 Juli 2017, Al Gamaleya, Kairo
#SatuDekadeKupretist
(2007-2017)

Mahasiswa pascasarjana jurusan Siyasaat Syar'iyyah, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir