Senin, 30 Juli 2018

as-Salih Thala’i, Wazir fatimy yang terpanggil namanya

DARB Al-AHMAR memanas, suhu saat itu mencapai 37° C. Masjid milik wazir Dinasty Syi'ah Fatimiyah 1160 M masih gagah berdiri di kawasan tua yang menjadi pusat keramaian karena berdekatan dengan pasar yang sejak masa Fatimy dipusatkan untuk lalu lalang dan pintu utama kota. Prasasti terakhir milik Fatimiyah itu begitu penting bagi Khazanah Islam di Mesir yang letaknya berdampingan dengan pintu gerbang utama Zuwayla

As-Salih Thala'i adalah seorang wazir yang diakui oleh para sejarawan atas kepiawaiannya dalam gubahan sastra dan berbagai seni di eranya. Para penyair dan sastrawan cenderung sangat dekat dengannya sebagai bukti kongkrit untuk sekedar bertukar puisi atau sekedar duduk-duduk berbagi maklumat. Ibn Khalkan pernah berkata "dia amat piawai dalam gubahannya di setiap puisi". pernah ada seorang bernama Abi Syamah yang ragu akan puisi-puisi milik Thala'i. Sampai pada akhirnya dia menarik ucapannya lalu berkata "Sungguh, tidak akan ada yang percaya bahwa puisi yang begitu indah ini milik thala'i, tampak lebih menawan ketika ku teliti dari makna dan pilihan kata yang dia pakai" bahkan pendapat itu di amini oleh sahabatnya Muhadzab ibn az-Zubair

Pernah al-Maqrizi berkisah pada suatu ketika Thala'i pernah bersama kerabatnya para fakir miskin Irak datang untuk berziarah kepada Sayyidina Ali Karamallu wajhah, bahwa Thala'i pernah bermimpi berjumpa dengan seorang wali penunggu makam itu, lalu mereka bertemu selepas ziarah dan saling bercerita bahwa wali penjaga makam itu juga pernah bermimpi bertemu sayyidina Ali yang sempat berkata dalam mimpinya bahwa "di sebuah malam, akan ada peziarah yang datang bersama 40 orang fakir yang salah satu dari mereka bernama Thala'i yang memiliki cinta yang begitu besar terhadap Ahlul Bait, Perintahkan kepadanya untuk pergi ke Mesir!" 

Masjid as-Shalih Thala'i terletak di sebelah gerbang raksasa Zuwayla, Masjid ini dibangun di masa dinasty Fatimiyah akhir sebelum berpindahnya kekuasaan ke tangan dinasty Ayubiyah. Di abad ke 12 masjid ini pernah di disempurnakan dan digunakan untuk jama'ah sholat jum'at di tahun 1160 M era sultan al-Muiz Aibak at-Trukmani.