Minggu, 29 Juli 2018

Zuwayla, Gerbang Selatan Kairo yang Angkuh

“wahai kawan! Jika engkau lihat gerbang zuwayla, niscaya engkau tahu seberapa megah bangunan itu. Pintu gerbang yang berhias bintang-kemintang; menyandang kemilau-Sirius bermahkota cincin-Saturnus. Jika fir’aun melihatnya ia tak lagi menginginkan bangunan-menjulangnya takan pula bertitih pada haman (wazir milik nabi musa a.s). Ali ibn Muhammad an-Naili”
Kairo di penghujung bulan maret mulai terasa panas, langit sedang cerah dan warna birunya begitu tampak. sangat berbeda dengan beberapa hari yang lalu, kanan kiri sudah seperti warna dabu. bahkan langit birunya lenyap berganti warna kekuningan saat seisi kairo dihujani debu. disebrang jalan kecil, masjid thala'i yang dindingnya sudah terlihat tua, tampak bersemayam kesepian, masjid era dinasty fatimi masih setia menemani gerbang selatan yang angkuh. sepanjang jalan, pejalan kaki sudah melepas jaket tebalnya, kairo sudah tidak sekejam bulan-bulan sebelumnya saat suhu berada di titik yang begitu dingin. Kawasan zuwayla setiap hari selalu padat dengan segala kesibukan di benak mereka, kecuali hari Ahad yang sudah disepakati para pedagang sebagai hari libur. sejauh mata memandang pedagang bak membanjiri kawasan ini yang konon sejak 50 tahun terakhir sudah dijadikan sebagai pasar induk khususnya pakaian wanita, padat penduduk berbelanja dari dimulai dari komplek qhuri atau orang mesir menyebutnya souq ghuriyyah hingga gerbang zuwayla. Gerbang raksasa ini tidak akan pernah sepi dijajaki penduduknya yang lalu lalang, terlihat gerobak penjual full yang berada di depan masjid megah garapan moayyad syaikh yang sedang sibuk dengan para pembeli, persis di samping pintu berlapis baja yang warnanya sudah ditelan usia, penjual lilin dengan raut wajah khas penduduk benteng tua masih termenung masam melihat sekelilingnya yang semakin lama pemandangan tersebut seperti warna debu jalanan.

Memang benar, jalanan muiz yang sudah kusam adalah saksi bisu yang masih mampu menarik minat para pejalan kaki untuk menilik lebih dalam tentang kisah-kisah heroik yang pernah terjadi. Terik mentari yang sinarnya mulai surut, wajah-wajah lelah penduduk sudah terlihat dari gurat keningnya sejak beberapa jam lalu, memang sejak 4 bulan terakhir mesir sedang mengalami kemalangan di pasar internasional karena nilai tukar pound sedang jatuh, wajah mereka sejak beberapa bulan terakhir memang tampak murung, semurung masjid thala’i yang menjadi saksi bisu atas kejadian berdarah yang pernah terjadi di gerbang zuwayla.

Sejauh 1 KM lebih terbentang dari gerbang utara bab el-Futuh, jalan Muiz terbujur bersama peninggalan bersejarah dari berbagai dinasti, konon jalan ini juga disebut jalan diantara dua istana yang sudah tinggal puing-puing hangus yang terbakar. Di sebelah selatan jalan muiz, gerbang raksasa terpajang gagah berhiaskan dua menara milik masjid muayyad syaikh. Siapa nyana, gerbang selatan kota tua ini pernah menjadi momok menakutkan bagi semua orang, pasalnya karena terletak di kerumunan penduduk, juga letaknya sangat strategis dengan penjara syama’il. Selain dijadikan sebagai pusat lalu-lalang para pejalan kaki lintas Negara, gerbang zuwayla merupakan panggung yang dipertontonkan untuk menggantung para pembangkang. jika ditilik secara teliti, masih terlihat bercak tetesan darah kering yang menempel di permukaan tempat pemancungan. konon di sana pernah digantung seorang nelayan miskin, orang-orang asing, pemberontak dan para pemuka pemerintahan.

Bersamaan dengan ekspansi dinasty fatimy ke wilayah mesir yang mengikutsertakan beberapa kabilah dari dataran tunis, Jauhar as-Siqily sang panglima milik muiz lidinillah yang sedang mengatur tata letak kota yang pertama dilakukan sebagai bentuk pondasi keamanan adalah membangun benteng dengan pintu gerbang yang di garap di tahun 668 M dan kemudian dilanjutkan oleh badr as-Din al-Gamaly. sebagai wujud penghormatan kepada kabilah zuwayla, Jauhar as-Siqily menamai gerbang selatan kota kairo dengan mana kabilah tersebut, orang mesir hingga sekarang menyebutnya bab Zuwayla.
Pada tahun 695 H, bulan asyura, terdapat gerombolan para mamluk di tengah mlam, membuka gerbng sa'adah, menyerang kerumunan manusia, kuda-kudanya diambil. esok harinya, amir Katbugha mengetahui kejadian sewaktu petang tersebut lalu menghukumnya dengan memotong tangannya, kemudian diseret menggunakan kuda mengelilingi benteng kairo dan berujung pada pensaliban diatas gerbang zuwayla yang disaksikan oleh rakyat kecil. bagaimana tidak dikatakan sebagai kajadian berdarah, tubuhnya yang sudah hampir menyatu dengan tannah, lalu badannya dirobek menggunakan pedang menjadi dua bagian. kejadian berdarah para maluk adalah awal mula dilakukan penyaliban yang di tulis oleh sejarawan Ibn Iyas dalam bukunya. dalam kisah yang berbeda menyebutkan bahwa suatu ketika ada seorang wanita yang keberadaannya cukup terkenal dikalangan masyarakat, namun dia dikenal sebagai orang yang gemar mencekik leher dengan korban yang sama yaitu para anak kecil dan para wanita. pencekikan tersebbut di lakukan bertujuan untuk menjarah pakaian korban. kabar tersebut sudah terdengar ke telinga sultan, lalu sultan memanggilnya agar segera dihukum, namun ia mengenyahkan panggilan tersebut hingga akhirnya ia diseret dan dipaksa datang oleh para prajurit sultan dan akhirnya tewas mengenaskan dalam keadaan tergantung. Zuwayla juga sudah seperti panggung pertunjukan penggantungan para pembangkang sultan, rakyat tumpah ruah menyaksikan dengan raut wajah miris saat menyaksikan hukuman itu dijatuhkan.

para pedagang yang lalu lalang terkadang menemukan kepala yang sudah terpisah dari jasadnya yang tergeletak di bawah zuwayla, mereka sudah mafhum mungkin terjadi pemancungan beberapa jam yang lalu atau ketika petang beranjak pagi.


kejadian serupa terjadi pada bulan rajab tahun 782 H, Attabek (panglima tertinggi) Barquq mengirimkan surat kepada seorang gubernnur Alexandria Khalil ibn 'Arom memberinya mandat untuk membunuh seorang amir mamluk barkat yang sedang mendekam di dalam penjara, saat berita rencana pembunuhan tersebut tersebar, mamluk barkat memberontak bertolak ke kairo untuk menemui panglima barquq, pertemuan terjadi, alih-alih barquq berpura-pura tidak mengetahui berita tersebut, mengingkari bahwa dia akan melakukan pembunuhan yang sudah terencana. lantas sepontan barquq yang memiliki pengaruh penuh terhadap tubuh mamalik langsung mengikrarkan untuk mencabut jabatan Khalil ibn 'Arom yang saat itu menjadi gubernur Alexandria. barquq mengutus pasukannya untuk menngambil surat yang masih berada di tangan Khalil, memaksanya untuk segera menghadap panglima tertinggi, barquq. "wallahi, saya tidak berniat membununhnya kecuali atas perintah yang tertulis di dalam surat milik panglima barquq, dia sudah mencuri surat itu dariku, ingatlah, antara diriku dan dirinya ada Allah yang maha tahu segalanya, namun ingatlah, urusan politik tidak mengenal olok-olok dan menghiraukan tentang kepentingan dan kepercayaan. yang ingin saya katakan, "sungguh barquq telah mengutusku untuk membunuhnya".

Di hari itu tentara utusan barquq dengan kejamnya menancabkan paku di kedua tangannya hingga menembus lengannya, memaksanya membawa ke kairo untuk dihadapkan kepada panglima barquq. disisi lain terjadi kemelut yang semakin memanas di tubuh mamalik di qal'ah jabal, setibanya khalil di kairo, mamluk barkah melampiaskan kekesalannya yang sudah terbakar, tubuh lemah khalil yang sudah dipaksa menahan kesakitan, juga telapak tangan yang sudah bolong ditembus paku, kesengsaraannya tidak selesai begitu saja, perutnya dirobek dan isi perutnya di keluarkan dicabik-cabik, tubuh yang sudah hancur kemudian di gantung di gerbang zuwayla yang didiamkan beberapa hari agar ditonton rakyat. menurut ibn iyas para sultan membiarkan mayat-mayat itu bergelantungan beberpa hari agar menjadi perumpamaan kepada rakyat jika membangkang. "kami meminta perlindungan kepada Allah dari pada beban yang dipikul oleh ibn Arom".

"Kepatuhannya kepada sang sultan merupakan bencana, maka tunggulah saat keadaan itu berbalik. apakah rahasia yang tersimpan adalah murka, atau perintahnya begitu buruk ketakutannya atas dirinya sendiri" (ibn Iyas).