Rabu, 01 Agustus 2018

Masjid Sultan Barsbay, Memori Sang Penakluk Siprus

Ia memutuskan untuk menyerang Siprus dan membungkam mereka dari serangan-serangan tak berkesudahan ke Iskandariah.
Iwan Kiblat Masjid - Hazem Hafez
Ketika Mesir dikuasai oleh mantan budak bernama Baybars al Bunduqdari (1260-1277), semesta Syam goncang. Sultan paling dikenang karena berhasil memukul mundur pasukan salib yang dipimpin Louis IX (1249-1250) di Manshurah tersebut membuat gebrakan menakutkan yang membuat keberadaan pasukan salib terancam. Di Mesir, Baybars menitipkan kawasan Damieta dan Aleksandriah kepada para panglimanya, skuadron rakasasa dengan perahu-perahu besar berjejer menakutkan di sepanjang pantai. Pada tahun 1263 M, tiga tahun setelah Baybars berhasil memukul mundur pasukan paling ditakuti di dunia, Mongol, di Ain Jalut, ia mulai mengarahkan pasukannya untuk menghilangkan ancaman musuh bebuyutannya, yaitu pasukan salib yang masih bertahan di beberapa kota penting di Syam.

Gebrakan pasukan yang dipimpin Baybars mampu mengalahkan pertahanan pasukan salib di Arsuf, Qaisarah, yafa, Shafad, hingga memaksa Ratu Issabela, Ratu Beirut, Lebanon, mengadakan perjanjian damai dan genjatan senjata dengan Baybars pada tahun 1268 M. pada tahun yang sama, salah satu benteng terbesar yang menandakan keberhasilan perang salib pertama tahun 1097 M, Antiokh, tunduk kepada Baybars.

Antiokh kolaps, Baybars kemudian melanjutkan ekspansinya menuju sisa-sisa benteng pertahanan pasukan salib yang lain. Pada tahun 1270, Baybars berhasil menguasai benteng penting di Acre, dan benteng Akrad. Laju serangan yang dipimpin Baybars ini mampu mengguncang semua pertahanan terakhir yang dikuasai pasukan salib, keberadaan mereka semakin goyah, terancam, dan mulai menatap bayang-bayang kehancuran.

Penerusnya, Sultan al Manshur Qalawun yang memerintah Mesir dari tahun 1279-1290 M, melanjutkan ambisi Baybars dalam upaya menghilangkan semua ancaman terhadap dunia islam. Pada tahun 1289, Qalawun berhasil menguasai benteng pertahanan paling kuat yang pernah dimiliki pasukan salib, Tripoli. Kota Tripoli di Syam merupakan salah satu dari tiga benteng kekuasaan pasukan salib paling kuat setelah Antiokh dan Acre.

Setelah Qalawun wafat, ambisinya diteruskan oleh anaknya, Ashraf Khalil (memerintah Mesir dari tahun 1290-1294). Pada tahun 1291, Ashraf Khalil berhasil menguasai benteng paling terakhir milik pasukan salib, yaitu kota Acre (Israel sekarang). Setelah Acre tumbang, semua kawasan kecil yang dikuasai kristen mulai kolaps, Kerajaan Beirut yang menampung kawasan Haifa, Beirut, Tharsus, Tirus, dan Sidon mulai tumbang satu persatu dan menyerah ke tangan pasukan islam. Setelah itu, seluruh benteng pertahan pasukan salib di Syam runtuh. Prajurit salib seperti ksatria templar, hospitaller, atau ksatria Teutonic mulai meninggalkan bumi Syam dan mencari kawasan lain yang akan dijadikan benteng bagi pasukan salib. Salah satu benteng kuat yang menjadi pertahanan pasukan salib selanjutnya adalah sebuah pulau di laut Mediterania, bernama Siprus.

Siprus, Senandung Mediterania

Di sebuah pulau yang terletak di bagian Timur laut Meditarannia, suasana romantis masih terasa sampai sekarang di sepanjang pantainya yang eksotik. Negara pulau itu sampai kini masih menjadi sasaran para wisatawan dan turis, mereka mengincar sunset yang bisa dinikmati tiap hari, berduaan dengan kekasih di sepanjang pantai akan menjadi moment tak terlupakan. Negara yang dulu menyimpan kenangan romantis salah satu Raja paling terkenal sejagat perang salib, Richard The Lion Heart itu masih mengundang jutaan orang untuk ikut merasakan momen-momen pernikahan sang Raja dengan Berengaria dari Navarre. Pulau bersejarah yang memiliki sembilan kastil megah nan raksasa itu bernama Siprus, senandung laut Mediterannia.

Di Nikosia, Ibukota Siprus, menikmati berbagai monumen bersejarah akan sangat nikmat jika ditemani kekasih. Caravanserai atau Wikala (tempat singgah para pedagang dan gudang tempat menyimpan barang-barang mereka) Buyuk Han yang dibangun Turki Ottomani pada tahun 1572 M masih kental dengan nuansa romantisme islam. Di dalam Buyuk Han terdapat kafe sederhana, menikmati kopi sembari ditemani suara nyanyian seruling yang ditiup perlahan oleh peramai kafe akan sangat berkesan. Di luar, benteng Venesia membentang indah. Dulu, benteng ini dibangun untuk membendung serangan Turki Ottoman yang dipimpin laksamana Lala Mustafa Pasha yang berhasil merebut Nikosia pada tahun 1570 M.

Kota terbesar kedua setelah Nikosia, Limassol, sampai sekarang masih menarik para turis dan wisatawan karena keindahan panoramanya. Kastil abad pertengahan yang dipakai Raja Richard si Hati Singa masih berdiri gagah. Menikmati panorama kastil yang dibangun oleh orang-orang Bizantium di sebuah taman di Limassol akan menambah keromantisan tersendiri. Duduk sembari ditemani pohon Eukaliptus, pohon tusam, atau pohon pinus yang tenang akan semakin membuat momen bersama kekasih menjadi tak terlupakan.

Di Farmagusa, sebuah kota eksotik sebelah utara Nikosia, berdiri sebuah mesjid megah bernuansa ghotic abad pertengahan. Mesjid yang dulunya merupakan katedral tersebut berubah menjadi mesjid ketika Ottoman menyerbu Farmagusta pada tahun 1571 M. Katedral Saint Nicholas tersebut kemudian berubah menjadi mesjid dengan nama Mesjid Aya Sofia Magusa. Baru pada tahun 1954, mesjid tersebut diberi nama Mesjid Lala Mustafa Pasha.

Jauh sebelum Turki Ottoman menyerang Nikosia, Limassol, atau Farmagusa, Siprus telah berhubungan dengan salah satu dinasti islam raksasa di Mesir, Dinasti Mamluk. Setelah Acre jatuh dan pasukan salib kocar-kacir, Siprus dijadikan sebagai benteng mereka untuk merencanakan perebutan kota suci Yerusalem, dan membungkam laju kekuasaan islam yang semakin luas.

Barsbay, Sang Penakluk Siprus

Siprus menjadi salah satu benteng pertahanan kristen sejak mantan Raja Yerusalem, Guy dari Lusignan kalah di perang Hattin yang dimenangkan Sultan Salahuddin pada tahun 1187 M. ketika kekuasaan pasukan salib kolaps di Syam, ksatria salib menjadikan Siprus sebagai benteng pertahanan mereka selanjutnya. Tahun demi tahun, Siprus menjadi momok bagi Islam, keberadaan pasukan salib disana mulai memunculkan ancaman bagi kestabilan dunia Islam di Syam dan Mesir.

Salah satu Raja Siprus, Petrus I dari keluarga Lusignan, melakukan penyerangan ke pelabuhan terpenting islam, Iskandariah. Serangan dadakan pada tahun 1365 M tersebut membawa kebengisan dan kekejaman tentara salib. Ribuan penduduk Iskandariah dibunuh dan rumah-rumah dibakar serta diluluhlantakkan.

Serangan ini membuat geram para pemimpin Islam. Kairo terguncang dibuatnya. Kemarahan Islam tak terelakkan, umat muslim di Granada saking marahnya menyerang kerajaan Jaen yang dikuasai kristen Spanyol sebagai bentuk peringatan.

Menanggapi serangan ini, wali Iskandariah, Amir Yalbugha al Khashiki menyiapkan skuadron raksasa, jumlah kapal yang berderet di tepi pantai mencapai 200 kapal. Ketika tampuk kekuasaan dipegang oleh Asraf Sha’ban, semua pelabuhan di kawasan Syam dan Mesir dipenuhi skuadron. Serangannya ke Siprus dimulai pada tahun 1368 M, dipimpin oleh komandan angkatan laut, Ibrahim al Ghazi. Namun Siprus belum sepenuhnya takluk, serangan balasan dari Siprus terus berdatangan ke Aleksandria.

Ketika Sultan Asraf Barsbay, salah satu sultan terkenal dalam semesta Dinasti Mamluk Burji, berkuasa, ia memutuskan untuk menyerang Siprus dan membungkam mereka dari serangan-serangan tak berkesudahan ke Iskandariah. Serangan ini kemudian dikenal dengan 3 kampanye besar. Serangan pertama dimulai pada tahun 1424 M, skuadron Barsbay bertolak dari Damietta dan berhasil menaklukkan pelabuhan Limasson. Serangan kedua terjadi pada tahun berikutnya, pasukan bertolak ke arah Tripoli di Syam. Disana, skuadron muslim di Tripoli dan Beirut bergabung dan membentuk serangkaian kampanye perahu raksasa. Penyerangan ini berhasil menguasai pelabuhan Corbass, yang terletak di tepi sebelah timur laut pulau. Setelah itu, Farmagosta takluk ditangan mereka. Disusul kota Larnaka, lalu Limasson.

Sasaran terakhir adalah ibukota Siprus, Nikosia. Namun, komandan serangan Amir Saifuddin Garyash al Dzahiri mengetahui bahwa raja Siprus, Janus I telah meminta bantuan dan bergabung dengan orang-orang Venisia. Venisia mengirim utusan skuadron raksasa yang memaksa Garyash mundur untuk sementara ke Mesir.

Barsbay tak tinggal diam, serangan terakhirnya ia gerakkan pada tahun 1246. Penyerangan terakhir ini diperkuat oleh semua kekuatan maksimal yang dimiliki Barsbay. Akhrinya, Nikosia yang menjadi benteng pertahanan terakhir dapat tumbang, Janus berusaha melawan gelombang serangan namun kalah di Kherokita. Janus menyerah dan dibawa ke Kairo lewat Iskandariah, ia menebus dirinya dengan harga 200 ribu dinar. Barsbay kembali ke Kairo dengan membawa kemenangan besar, Siprus akhirnya tumbang. Pukulan telak tersebut dapat membendung ancaman kekuatan salib di Mediterania. Umat islam di Kairo serentak gembira, merayakan kemenangan tersebut, dan menyanjung-nyanjung nama sultan yang sekarang namanya mengiang nyaring di semesta sejarah islam di Mesir. Sultan yang namanya mencuat sebagai penakluk Siprus tersebut mengabadikan kemenangannya dengan membangun mesjid yang akan terus-menerus mendendangkan cerita epicnya, kini, mesjid itu berdiri megah di kawasan sesak jalan Muiz lidinillah.

Mesjid Barsbay, Memori Sang Penakluk

Barsbay berkuasa selama kurang lebih 16 tahun (1422 sampai 1438). Ia adalah sultan Mamluk ke 32. Tumbuh besar sebagai budak dari Sultan Zahir Barquq, pendiri dinasti Mamluk Burji di Mesir. Pada tahun 1424 M, dua tahun setelah menjadi Sultan, Barsbay membangun mesjidnya di kawasan Mu’iz lidinillah. Mesjid yang selesai setahun setelahnya itu kini masih bisa dinikmati. Berdiri tak bergeming di tengah sesaknya jalanan di Syaria Mu’iz. Warnanya yang kemerahan membuat mesjid Barsbay menjadi kontras dan dapat dikenali dengan mudah.


Begitu masuk ke dalam mesjid, aku dihinggapi perasaan kagum, dan lagi-lagi, memori-memori masa klasik selalu kental aku rasakan di setiap batu yang dijadikan bahan dinding masjid ini. Untuk sampai ke tempat shalat, aku melewati lorong pendek, jendela raksasa berbahan kayu dan bolong-bolong terpampang di dinding lorong ini, membuatku bisa mengintip keindahan ruangan dalam. Begitu masuk, aku diserang desiran rasa kagum, mihrab raksasa yang dindingnya ditaburi berbagai macam ukiran semakin membuatku tak berkedip.

Ruangan dalam ini dikelilingi empat iwan, dan tentunya, iwan yang paling besar adalah yang disana terdapat mihrab, atau tempat shalat. Tembok di dindingnya diukir tulisan kaligrafi seni tinggi, diatas mihrab terdapat jendela yang ditaburi kaca berwarna-warni, membuat nuansa ghotik semakin terasa. Lampu-lampu menggantung tenang, sementara mataku dimanjakan oleh ukiran eksotik pada dinding mihrab. ukiran rumit dan berwarna-warni membuat nuansa mesjid ini menjadi tempat asyik untuk belajar. Dan memang, mesjid ini dari dulu fungsinya digunakan sebagai madrasah.


Di iwan yang menghadap mihrab, atapnya dilapisi ukiran menakjubkan, dibalut kaligrafi indah dan dipoles dengan warna emas yang cerah, persis seperti atap yang terdapat di mihrab mesjid Sultan Barquq. Berbagai ukiran rumit dan polesan seni tingkat tinggi di mesjid ini semakin mengukuhkan bahwa Barsbay merupakan Sultan penikmat seni arsitektur sebagaimana para pendahulunya.

Pembangunan masjid, madrasah, khanqah, juga marak dimasa Barsbay. Ia membangun tiga madrasah sekaligus di Mesir, satu di Syaria Mu’iz, lalu di komplek pemakaman City of The Dead, terakhir di kota Khankah di Qolyubiah, 22 kilometer dari Kairo. Madrasah-madrasah tersebut diserahkan kepada salah satu ulama terkenal yang mengarang kitab monumental, Fathul Bari Sharah Bukhari, bernama Ibnu Hajar al Asqalani, amir mukminin fil hadits.

Jejeran ulama besar lain yang semasa dengan Barsbay adalah Badruddin el Aini, pengarang kitab Umdah al Qari li Sharh al Bukhari, juga pengarang kitab sejarah besar, Aqd al Juman fi Tarikh Ahl al Zaman, Barbay juga semasa dengan pengarang buku sejarah yang menjadi rujukan selama berabad-abad, Al Maqrizi, empunya kitab monumental Al Suluk li Ma’rifah Duwal al Muluk. Barsbay pernah berguru kepada Badr el Din, ia sempat mengatakan perihal kekagumannya terhadap guru agamanya tersebut;

“Andai Badr el Din el Aini tidak ada, kita tidak akan bisa menjalankan islam dengan baik.”

*****
Kairo, 12 Maret 2012

Karena dengan berpetualang, hidup menjadi lebih berwarna.

Next
This Is The Current Newest Page